Sosok

Amir Hamzah, Tengku (1911-1946)

2010-07-06


Sastrawan Pujangga Baru

Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Adat

Marhusip (Budaya Muda- Mudi Yang Sudah Hilang)

2009-10-11

Salah satu karya sastra yang cukup unik yang berlaku pada masa lampau di Tapanuli Selatan ialah, marhusip yang dihalalkan oleh adat. marhusip ialah salah satu cara untuk berkenalan dengan seorang gadis. Kalau hari sudah larut malam dan jalan- jalan suda sepi, sang pemuda keluar rumah. Mula- mula ia harus mendatangi ketua pemuda- pemudi di kampung yang didatangi itu, lalu menyatakan maksud kedatangannya. Dari si ketua itulah dia mendapatkan informasi tentang si gadis, misalnya apa marganya, siapa orang tuanya, dan bagaimana keluarganya.

Ada yang mengatakan bahwa permulaan adanya marhusip ialah pada waktu datangnya agama Islam karena menurut agama Islam kurang baik dipandang mata kalau seorang pemuda dan seorang pemudi duduk berdua saja.

Kalau telah mendapatkan persetujuan dari ketua pemuda di kampung itu. Pemuda yang akan marhusip pun menuju rumah si gadis, Karena rumah- rumah di Tapanuli Selatan mempunyai tangga. Pemuda tad menunggu di bawah kolong rumah. Ia akan tahu dengan tepat di mana kamar si gadis.

Biasanya gadis yang didatangi itu sudah tertidur lelap. Untuk membangunkan si gadis maka pemuda itu menusukan lidi melalui kolong rumah, sehinga sang gadis terbanun. Pada mulanya sang pemuda menyapa dengan kata- kata : "Hee... hee..., hee..." jika sudah begitu, biasanya sang gadis akan tahu, ada seorang pemuda yang datang marhusip. Setelah beberapa kali dipanggil barulah sang gadis memberi tanda bahwa ia sudah bangun. Kemudian sang pemuda pun mulai berpantunanlah.

Demikian seterusnya mereka berpantun dan bersahut- sahutan sampai tiba waktunya berpisah. Karena hari sudah mulai subuh maka orang tua si gadis akan pergi ke sungai untuk berwudhu. Semalam suntuk si pemuda berada di kolong rumah si gadis meskipun nyamuk- nyamuk menggigitnya.

Perkenalan melalui marhusip dapat meningkat menjadi pernikahan bila direstui oleh kedua belah pihak. berkencan dan berkenalan yang unik seperti ini, sudah tidakdikenal lagi oleh generasi sekarang.

Motif berkencan yang diwarnai dengan berbalas pantun merupakan adat istiadat yang dihalalkan dan perlu dilestarikan, maka diperlu di galakkan kembali, agar generasi sekarang dapt menghargai adat istiadatnya dan turut mewarnai kesusastraan Indonesia.

Disamping itu, motif- motif perkenalan antara muda- mudi yang disampaikan dengan cara berbalas pantun adalah martandang dan marbondong yang juga disampaikan dengan berbalas pantun, akan tetapi dengan cara yang lain.

[disadur dari tulisan Dra. Ny. A. Ibrahim Batubara, NB]