Sosok

Ratu Opera Batak dari Tiga Dolok boru batak Zulkaidah br Harahap

2010-03-09

Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an. Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit. Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Adat

Mangalehen dan Manabalkon Marga

2010-01-12

(Bukti Halak Kita Sangat Inklusif)
Oleh : K. Mahadan

Marga pada hakikatnya adalah nama cikal bakal suatu kelompok kerabat dalam suku Batak, Karo, Angkola dan Mandailing (Halak kita) berdasarkan garis keturunan laki- laki (ayah).
Nama cikal bakal itu kemudian diwarisi secara turun menurun. Jadi marga boleh dikatakan adalah dibawa lahir.

Pada prinsipnya, satu marga berarti bersaudara. Saudara kandung seayah pasti semarga. Cucu dari anak laki- lakiseseorang yang bermarga Harahap, misalnya secara alamiah juga mendapatkan marga Harahap.

Namun, adat Halak Kita juga sangat terbuka (inklusif). Sekalipun pada prinsipnya marga adalah soal pertalian darah, adat juga membuka peluang bagi orang dari luar Halak Kita untuk mendapatkan marga. Tentu saja dengan aturan adat tersendiri.

Inilah salah satu keluwesan adat batak untuk melestarikan adat istiadatnya. Biasanya perkawinan orang Batak adalah perkawinan boru tulang (anak perempuan dari adik/ kakak laki-laki dari ibu kita) dengan anak namboru (anak laki- laki dari adik/ kakak perempuan ayah kita). Ada saatnya, Halak kita menikah degan orang non- Halak Kita. Bahkan, makin kemari pergaulan makin menasional dan mengglobal di Nusantara ini makin banyak terjalin perkawinan antar- suku.

Nah, apabila terjadi perkawinan antara Halak Kita akan menunjukan adat terbaiknya. Disini terlaksanakanlah pelestarian adat- istiadat secara alamiah. Salah satu segi adat yang tampak adalah pemberian marga bagi yang bukan Halak Kita.