Sosok

Amir Hamzah, Tengku (1911-1946)

2010-07-06


Sastrawan Pujangga Baru

Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Syiar

Syekh Abdul Malik (1825-1910)

2008-06-05

Nama kecilnya Abdul Malik, setelah 'alim beliau dinamai Syekh Abdul Malik dan terkenal dengan julukan Baleo Natal. Orangtuanya bernama Abdullah berasal dari Muara Mais, Kecamatan Kotanopan, Mandail­ing Natal, yang merantau ke Natal selanjutnya menikah serta tinggal di Natal selama berpuluh-puluh tahun. Dari pernikahan tersebut lahirlah anaknya Abdul Malik pada tahun 1245 H (1825 M). Sejak kecil Abdul Malik telah belajar agama kepada Syekh Abdul Fattah, guru agama yang masyhur di Natal dan kawasan Mandailing. Dalam menuntut ilmu, beliau dikenal sangat tekun dan sungguh-sungguh hingga menjadi murid yang disayangi dan dipercayai oleh gurunya. Beliau sempat pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dan sekembalinya beliau belajar terus kepada gurunya di surau Tambak Natal seperti keadaan sebelumnya sehingga beliau benar­benar menjadi seorang 'alim.

Alkisah, pada suatu ketika datanglah utusan yang Dipertuan Huta Siantar, Panyabungan menjumpai Syekh Abdul Fattah untuk meminta kesediaan beliau menjadi guru agama di Huta Siantar. Tetapi karena berbagai hal beliau tidak dapat mengabulkan permintaan tersebut. Sebagai gantinya dia menunjuk muridnya Abdul Malik untuk menuaikan tugas itu. Maka dijemputlah Syekh Abdul Malik ke Huta Siantar untuk menjadi guru yang pada ketika itu masih seorang pemuda remaja dan belum menikah. Pada waktu itu, masyarakat Huta Siantar dan sekitarnya pada umumnya sudah menganut agama Islam, terutama dengan kedatangan tentara Paderi dari Bonjol pada 1816, tetapi pengetahuan agama belum mendalam karena itu mereka sangat membutuhkan guru agama Islam. Setelah Syekh Abdul Malik berada di Huta Siantar, beliau pun mengajar dan mengembangkan aga­ma Islam kepada murid-muridnya yang berdatangan dari sekitar Huta Siantar dan Panyabungan. Pengajaran yang diberikan Syekh Abdul Malik mendapat sambutan, baik dari raja-raja, maupun dari masyarakat umum, hingga beliau bukan saja mengajar di Huta Siantar, tetapi juga sampai ke Padangsidimpuan dan Sipirok. Beliau mengajarkan pengetahuan agama tidaklah sekaligus, tetapi dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan keadaan masyarakat. Mula-mula dengan mengajarkan dua kalimah syhadat, ucapan dan pengertiannya, setelah itu baru diajarkan ibadah sholat, puasa, dan seterusnya.

Pada waktu itu, terutama golongan raja-raja agak berat mengerjakan puasa Ramadhan secara terus menerus selama satu bulan penuh. Menyiasati ini, beliau kemudian menyuruh mereka hanya melakukan puasa pada awal bulan, pertengahan, dan akhir bulan, atau sebanyak tiga hari dalam satu bulan.Kemudian lama-kelamaan dengan berangsung-angsur barulah mereka dapat melaksanakan puasa satu bulan penuh. Oleh karena Syekh Abdul Malik masih pemuda, maka dengan kesepakatan semua keluarga beliau dinikahkan dengan seorang gadis Huta Siantar. Kelak dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang diberinama Abdul Syukur. Setelah kembali dari menunaikan ibadah haji untuk yang keduakalinya, Syekh Abdul Malik kembali meneruskan syiar Islam. Tak cuma di sekirar Huta Siantar, syiarnya kini sudah merambah hingga Padangsidimpuan, Sipirok, Padanglawas, dan Dalu-dalu. Karena beliau adalah seorang mubaligh yang luas pahamnya, maka masyarakat sangat mencintai dan menghormatinya. Beliau digelari "Baleo Natal" dan terkenal diseluruh penjuru Tapanuli bagian Selatan.

Ketika anaknya Abdul Syukur berumur 20 tahun, beliau pergi lagi ke Mekkah untuk ketigakalinya dengan tujuan menuaikan ibadah haji, serta untuk menambah ilmu pengetahuan. Sebab itu, berapa lama beliau bermukim di Mekkah tidaklah jelas diketahui. Tapi menurut sebuah riwayat, sewaktu di Mekkah beliau sempat menikah dengan seorang wanita bangsawan Arab, yang kemudian bercerai. Sesudah itu beliau kembali ke tanah air. Konon kabarnya janda Syekh Abdul Malik tersebut kemudian dinikahi oleh H. Maksum, seorang kava lagi 'alim dari Deli.

Setelah kembali dari tanah suci beliau menetap di Natal dengan istrinya yang dari Huta Siantar tersebut. Beliau meneruskan dakwahnya mengembangkan agama Islam melanjutkan pekerjaan gurunya Syekh Abdul Fattah yang telah wafat pada 1863. Sebagaimana diterangkan di atas, Syekh Abdul Malik bukan saja mengajar di Huta Siantar, tetapi sampai ke Padangsidimpuan dan Sipirok. Kabarnya Syekh Bosar, seorang guru agama terkenal yang membangun mesjid lama Padangsidimpuan dan hidup antara tahun 1857-1920 adalah seorang diantara muridnya. Demikian juga Syekh M"uhamad Yunus di Sipirok yang masyhur dengan nama Tuan Syekh Natal di Jabalan. Pada waktu beliau menjadi guru di Sipirok, beliau mengajar di tempat Mesjid Raya yang sekarang, yang ketika itu masih berupa surau kecil. Lantaran murid-muridnya tia­da muat di dalam surau itu, maka mufakatlah mereka untuk memperbaiki dan memperluasnya. Untuk tiang mercu masjid dica­rilah kayu besar ke dalam hutan, dan kebetulan didapatlah di atas sebuah bukit kecil, maka ditebanglah dengan mengarahkannya ke suatu tempat yang mudah menariknya.

Tetapi secara tidak diduga, po­hon tersebut malah tumbang ke dalam sebuah jurang sehingga sulit untuk menariknya. Perihal ini segera dibertahukan kepada Syekh Abdul Malik, dan untuk seterusnya pergi bersama-sama dengan penduduk untuk melihatnya. Kemudian beliau menyuruh supaya ditarik bersama-sama sehingga akhirnya kayu besar itu dapat ditarik untuk dijadikan tiang mercu yang dimaksud. Selain daripada itu, ketika me­ngajar di Sipirok masih ada lagi di­antara orang-orang yang sudah masuk Islam itu yang belum meng­hentikan memakan makanan yang haram, seperti babi, di perjamuan­perjamuan dengan memotong hewan tersebut. Suatu ketika beliau juga turut menghadiri perjamuan tersebut.

Ketika makanan telah siap di­hidangkan, lalu hadirin dipersila­kan untuk menikmatinya. Tetapi Syekh Abdul Malik terlebih dahulu meminta ahlul bait untuk terlebih dahulu mencicipi makanan itu. Set­elah si pemilik rumah mencicipi hidangan, tiba-tiba saja gulainya terasa pahit. Bukan saja yang ada di piring tuan rumah, tetapi semua makanan yang dihidangkan pada pesta itu juga telah menjadi pahit. Peristiwa ini tentu saja menimbulkan kehebohan, dan dengan perasaan malu ahlul bait menyuruh memotong lagi babi yang lain. Setelah dimasak, hasilnya tetap sama yakni tetap pahit. Pada saat itulah beliau menerangkan hukum­hukum Islam dengan tegas. Bahwa makanan yang sudah diharamkan tidak boleh dimakan oleh ummat Islam. Banyak lagi keanehan yang terjadi pada diri beliau yang tiada dapat diterangkan disini, karena itulah Syekh Abdul Malik dianggap sebagai orang yang keramat.

Diantara kitab-kitab Arab yang diajarkan beliau ialah Tafsir Ruhul Bayan, Syawi, Jalalain, dan Iimu Tasawuf, Ihya Ulumuddin. Sementara kitab-kitab yang berbahasa Melayu antara lain, Sabilul Muhtadin, Mathlaul Badrain, dan Syrus Salikin. Menurut kerterangan cucu­nya, H. Hasan Basri, Kitab Tafsir Ruhul bayan tersebut masih ada padanya sampai sekarang. Pada Jumat bulan Ramadhan tahun 1320 H, kurang lebih jam 10 pagi, beliau yang sedang sakit minta dibaringkan ke arah kiblat. Menurut kisah, pada saat itu seluruh ruangan dimana beliau dibaringkan dipenuhi keharuman yang semerbak. Syekh Abdul Malik tetap berbaring ke arah kiblat dengan berselimut, tetapi tiba-tiba saja selimut itu seperti kempis seolah-olah tidak ada orang di dalamnya. Tetapi kemudian kedengaranlah beliu batuk-batuk. Setelah diperiksa ternyata beliau sudah berpulang ke rahmatuliah dalam usia 75 tahun. Pada sore itu juga jenazah beliau dimakamkan di pekuburan Kayu Baru, termasuk lingkungan Kayu Aro, tidak begitu jauh dari kota Natal.