SosokAmir Hamzah, Tengku (1911-1946)2010-07-06
|
SyiarAgama dan Ekonomi2010-01-12
Memang Emile Durkheim (1933) menyatakan bahwa semakin sejahtera ekonomi suatu bangsa semakin berkurang peranan agama. Namun dari sisi lain sejalan dengan perkembangan masyarakat Naisbitt (1996) meramalkan adanya kebangkitan spirit agama dimasa yang akan datang. Syahdan, dengan semakin kelihatannya kebobrokan kapitalisme dan munculnya berbagai sistem alternatif baik dalam lingkup kapitalisme yang dinilai memiliki nuansa yang lebih humanis maupun yang berasal dari luarnya seperti pemikiran radikalis (sosialis, komunis) dan Islam yang lebih adem menyebabkan perhatian kepada agama ini semakin meningkat. Ini bukan saja dikalangan Islam tapi juga di kalangan Katolik, Kristen, Jahudi, Buddha dan Hindu dan lain lain. Pemeluk agama ini juga mencoba merumuskan posisi mereka dalam bidang ekonomi. Kasus skandal Enron misalnya menimbulkan munculnya UU pertanggungjawaban perusahaan yang semakin ketat dan bernuansa etika yang semakin kental dan menonjol. Bahkan akhir akhir ini pengrhargaan kepada mereka yang mencoba mengaitkan agama dengan ilmu sekuler semakin dihargai. Misalnya Charles Tawney (89), Profesor di Universitas Berkeley California pemenang Nobel Prize bidang Fisika (Quantum electronics) tahun 1964 mendaparkan penghargaan April 2005 atas upayanya memasukkan aspek Spritual dalam karya karyanya. Beliau menyatakan bahwa Agama dan Sains sejalan. Beliau selalu menjembatani agama dan ilmu pengetahuan. Beliau akan menerima hadiah Templeton Prize sebesar US$ 1.5 juta. Beberapa pendapat beliau adalah: “Jika kami lihat apa sih agama itu?, Agama mencoba memahami tujuan dan arti dari alam kita ini. Ilmu pengetahuan mencoba memahami fungsi dan strukturnya. Jika ada pengertian, struktur pasti banyak kaitannya dengan arti, dalam jangka panjang keduanya pasti akan sejalan”. Sangat tidak mungkin jika dikatakan bahwa hukum fisika yang mengatur kehidupan di dunia ini hanya kebetulan. Tapi emang tidak mungkin diuji secara metodologis yang ada saat ini. Sewaktu dia mengajar di Columbia University dia memberikan kuliah dengan topik “The Convergence Sain dan Agama” dia menyatakan bahwa sain dan agama mestinya akan menemukan dasar yang sama perbedaannya sebenarnya kabur atau superficial bahkan jika kita lihat sifat realnya sama. Temuan temuan di bidang astronomy telah membuka mata manusia kepada agama. Fakta bahwa alam ini ada awalnya merupakan hal yang menakjubkan, mana mungkin kejadian itu ada tanpa Tuhan?. Islam sejak awal tidak pernah memisahkan aspek agama dan non agama termasuk dengan kegiatan ekonomi.Oleh karena itulah maka Islam selalu menjadi target sasaran atembak Kapitalisme dan antek anteknya yang ingin mempertahankan hegemoninya di bumi Allah ini. Islam selalu menempatkan Tuhan sebagai penguasa dan sumber kebenaran yang dianggap lebih baik daripada teori dan nilai rumusan manusia yang merupakan ciptaan Tuhan dengan segala keterbatasannya. Tidak terkecuali dibidang ekonomi. Konsep Samawi, konsep celestial lah yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan konsep lain yang memiliki berbagai keterbatasan dasar dan telah terbukti dirasakan oleh ummat manusia, dimana sistem kapitalisme sudah hampir membawa ummat manusia kejurang kehancuran, peperangan dan konflik sosial akibat ketidakadilan dan pengrusakan alam yang dahsyat.*Sofyan Syafri Harahap
BERITA LAINNYA
|