Sosok

Amir Hamzah, Tengku (1911-1946)

2010-07-06


Sastrawan Pujangga Baru

Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Syiar

Agama dan Ekonomi

2010-01-12

Arus sekularisme yang demikian deras meluluhlantakkan peran agama disemua bidang publik. Agama didesak ke sudut yaitu  hanya untuk urusan proses pengurusan lahir, nikah dan  mati. Bahkan kecenderungannya justru hanya mengurus mati saja. Karena kelahiran sudah diwakili kantor catatan sipil dan pernikahan sudah wewenang pencatatan sipil dan lembaga pengadilan. Memang inilah yang diharapkan oleh ide sekularisme supaya ia bebas dan ini merupakan pesan sponsor dari pendukung sistem  Ekonomi Kapitalisme yang karena kekuasaannya merambah juga ke bidang politik dan sosial.
Oleh karena gelombang sekularisme itu maka wilayah ekonomi yang menjadi domain kapitalisme mencoba meniadakan atau mensterilkan agama dalam setiap bidang ekonomi terutama dalam berbagai kebijakan dan aturan ekonomi. Idiologi agama tidak boleh mewarnai praktik ekonomi. Ini harapan kapitalisme. Apa memang kenyataannya demikian?

Di Barat sendiri belakang ini memang diakui kajian tentang hubungan Agama dan Ekonomi sangat sedikit kalau tidak bisa dibilang hampir tidak ada. Namun bukan tidak ada. Mari kita simak beberapa studi berikut ini.
Adam Smith  dalam buku pertamanya sebenarnya menganggap unsur agama punya peran dalam bidang ekonomi. Dalam hal ini agama dia sebut dengan istilah “moral suasion”. Ia menyatakan bahwa aspek moral   harus mewarnai dan berperan dalam ekonomi. Namun berikutnya dalam bukunya yang kedua yang lebih terkenal “the Wealth of Nation” aspek agama akhirnya hilang namun masih tetap ada fungsi yang hilang itu yang diganti dengan nama “invisible hand”.  Sebagaimana kita ketahui pada akhirnya dalam teori, model, dan kebijakan ekonomi, keuangan perbankan  peran dan nilai agama sama sekali dihilangkan.

Chester I Barnard (1938) pernah mengemukakan tentang tanggung jawab moral dari seorang eksekutif dalam memimpin perusahaan. Kemudian Max Weber (1958) menulis buku yang membahas tentang pengaruh positif etika protestan terhadap spirit kapitalisme dalam bukunya “the Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism”. Gerald Bell (1967) kemudian membandingkan kesuksesan dibidang kekayaan dan kekuasaan antara Protestan dengan Katolik dia menyimpulkan pemeluk protestan lebih berhasil dalam meraih kekayaan dan kekuasaan dibanding dengan Katolik. Gerhard Lenski (1967) menemukan hal yang sama artinya agama mempengaruhi mobilitas dan kesuksesan seseorang. Lipset, Bendix dan Weller menemukan hubungan signifikan antara agama dengan sikap dan prilaku ekonomi seseorang. Gordon Woodbine dan Tungsten Chou (2003) melihat hubungan antara afiliasi agama dengan persepsi mahasiswa terhadap etika konsumen, mereka menyimpulkan bahwa pemeluk Islam lebih memiliki komitmen terhadap etika dibandingkan dengan pemeluk Buddha dan Kristen dan pemeluk Buddha lebih komit terhdap etika dibandingkan Kristen.

Memang Emile Durkheim (1933) menyatakan bahwa semakin sejahtera ekonomi suatu bangsa semakin berkurang peranan agama. Namun dari sisi lain sejalan dengan perkembangan masyarakat Naisbitt (1996) meramalkan adanya kebangkitan spirit agama dimasa yang akan datang. Syahdan, dengan semakin kelihatannya kebobrokan kapitalisme dan munculnya berbagai sistem alternatif baik dalam lingkup kapitalisme yang dinilai memiliki nuansa yang lebih humanis maupun yang berasal dari luarnya seperti pemikiran radikalis (sosialis, komunis) dan Islam yang lebih adem menyebabkan perhatian kepada agama ini semakin meningkat. Ini bukan saja dikalangan Islam tapi juga di kalangan Katolik, Kristen, Jahudi, Buddha dan Hindu dan lain lain. Pemeluk agama ini juga mencoba merumuskan posisi mereka dalam bidang ekonomi. Kasus skandal Enron misalnya menimbulkan munculnya UU pertanggungjawaban perusahaan yang semakin ketat dan bernuansa etika yang semakin kental dan menonjol.

Bahkan akhir akhir ini pengrhargaan kepada mereka yang mencoba mengaitkan agama dengan ilmu sekuler semakin dihargai. Misalnya Charles Tawney (89), Profesor di Universitas Berkeley California pemenang Nobel Prize bidang Fisika  (Quantum electronics) tahun 1964 mendaparkan penghargaan April 2005  atas upayanya memasukkan aspek Spritual dalam karya karyanya. Beliau menyatakan bahwa Agama dan Sains sejalan. Beliau selalu menjembatani agama dan ilmu pengetahuan. Beliau akan menerima hadiah Templeton Prize sebesar US$ 1.5 juta. Beberapa pendapat beliau  adalah: “Jika kami lihat apa sih agama itu?, Agama mencoba memahami tujuan dan arti dari alam kita ini. Ilmu pengetahuan mencoba memahami fungsi dan strukturnya. Jika ada pengertian, struktur pasti banyak kaitannya dengan arti, dalam jangka panjang keduanya pasti akan sejalan”. Sangat tidak mungkin jika dikatakan bahwa hukum fisika yang mengatur kehidupan di dunia ini hanya kebetulan. Tapi emang tidak mungkin diuji secara metodologis yang ada saat ini. Sewaktu dia mengajar di Columbia University dia memberikan kuliah dengan topik “The Convergence Sain dan Agama” dia menyatakan bahwa sain dan agama mestinya akan menemukan dasar yang sama perbedaannya sebenarnya kabur atau superficial bahkan jika kita lihat sifat realnya sama. Temuan temuan di bidang astronomy telah membuka mata manusia kepada agama. Fakta bahwa alam ini ada awalnya merupakan hal yang menakjubkan, mana mungkin kejadian itu ada tanpa Tuhan?.
The Templeton  Prize dimaskudkan untuk Progress Toward Research or Discovery about Spriritual Realities, di dirikan tahun 1972 oleh Sir John Templeton. Pemenang sebelumnya adalah Mother Teresa, Billy Graham, Holmes Rolston III, dan John C Polkinghorne.  (Stammer, 2005, Maret 13- New Sunday Time, SundayStar, halaman 36).
Di Indonesia sudah banyak upaya untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang berjasa dalam pengembangan ekonomi dan perbankan Syariah misalnya Majelis Ulama Indonesia dan Bank Muamalat Indonesia.

Islam sejak awal tidak pernah memisahkan aspek agama dan non agama termasuk dengan kegiatan ekonomi.Oleh karena itulah maka Islam selalu menjadi target sasaran atembak Kapitalisme dan antek anteknya yang ingin mempertahankan hegemoninya di bumi Allah ini. Islam selalu menempatkan Tuhan sebagai penguasa dan sumber kebenaran yang dianggap lebih baik daripada teori dan nilai rumusan manusia yang merupakan ciptaan Tuhan dengan segala keterbatasannya. Tidak terkecuali dibidang ekonomi. Konsep Samawi, konsep celestial lah yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan konsep lain yang memiliki berbagai keterbatasan dasar dan telah terbukti dirasakan oleh ummat manusia, dimana sistem kapitalisme sudah hampir membawa ummat manusia kejurang kehancuran, peperangan dan konflik sosial akibat ketidakadilan dan pengrusakan alam yang dahsyat.*Sofyan Syafri Harahap