SosokAmir Hamzah, Tengku (1911-1946)2010-07-06
|
Berita DaerahAek Milas Non Balerang2009-06-25
Selain lokasinya yang sangat mudah untuk dijangkau (hanya satu kilometer dari jalan raya Mandailing), mandi di pemandian air panas ini ternyata dapat menyegarkan tubuh. Aek milas di Siabu ini juga dikenal juga sebagai Aek milas yang tidak mengandung belerang sehingga dapat diminum.
Seperti yang dikatakan Sammir Hasibuan (34), warga Desa Huraba, setelah mandi disini ia sangat merasakan manfaatnya. ”Saya sudah lima tahun mandi setiap sore disini.” Katanya.
Menurut dia, sebagai pengelola warung kopi di desanya setiap malam dia terpaksa begadang, sehingga badannya sering masuk angin. Namun setelah secara rutin mandi di pemandian air panas Siabu, badan yang dulunya sering pegal- pegal kini sembuh secara total.
Hal seruba juag disampaikan oleh Asmar Lubis (54), pemilik likasi pemandian. Menurut dia, sudah banyak orang yang merasakan manfaatnua setelah mandi dipemdaian air panas ini.
Oleh karena itu, tambah Asmar, pengunjung pemandian air panas ini bukan hanya orang- orang dari daerah sekitar Siabu melainkan dari daerah- daerah lain, seperti Penyabungan dan Angkola yang banyak datang.
“Selain dapat menyegarkan tubuh, air panas disini berbeda dengan air panas ditempat lain. Disini airnya tidak banyak mengandung belerang sehingga bisa diminum,” ujarnya.
Pemandian terpisah
Di objek wisata yang memiliki areal seluas 900 meter ini terdapat dua pemandian yang satu dan lainnya terpisah. Satu untuk pemandian pria dan satunya lagi untuk pemandian wanita. “Sengaja dibuat dua pemandian agar tempat ini terhindar dari maksiat,” ujar Asamar. Soalnya menurut dia masyarakat Madina sangat peka terhadap hal- hal yang berbau Maksiat.
Kedua pemandian ini merupakan hasil kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 1989 lalu.
Selain itu ada sebuah mushollah yang disediakn untuk para pengunjung pemandian air panas yang hendak akan melaksanakan ibadah sholat. Mushollah tersebut dibangun oleh seorang donatur warga desa Siabuyang kini menetap di Medan.
Sesuai Kultur
Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Madina, Ahmad, SH. Mengatakan pihaknya akan terus mengembangkan objek- objek wisata yang ada di Madina sesuai dengan kultur masyarakat setempat.
“Kiyta tahu Mandailing dikenal sebagi “Serambi Mekahnya, Sumatera Utara. Oleh karena itu dalam mengembangkan objek- objek wisata pun yang islami,” Kata Ahmad.
Berbeda dengan didaerah- daerah lain. “Di Ciater di Jawa Barat, misalnya, pemandian air panas laki- laki dan perempuan dijadikan satu. Hal itu tidak mungkin dilakukan disini,” ujarnya.* SUDIHAR LUBIS
BERITA LAINNYA
|