Berita Daerah
Sumut Jadi Pusat Kluster Industri Nasional
2010-02-02
Prospek kemajuan Simalungun itu diungkapkan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti bersama Menteri Perindustrian MS Hidayat saat mencanangkan pembangunan kluster industri berbasis pertanian dan Oleochemical di Sumut bertempat di Aula Martabe Kantor Gubernur Sumut di Medan, Rabu (27/1). Setelah dari Sumut, kluster industri serupa akan dikembangkan ke Sumbar, Sumsel, Kalbar, Kalsel, Kaltim (dua lokasi), Sulawesi hingga Papua.
Dihadapan Gubsu Syamsul Arifin, unsur Muspida Sumut, Bupati Simalungun HT Zulkarnain Damanik, Dirut PTPN III Amri Siregar, para stakeholders bidang perkebunan sawit se Sumut dan undangan lainnya, Bayu menjelaskan
pencanangan proyek dimaksud pada lahan PTPN III seluas 104 Hektare (Ha) awalnya, dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 600 Ha hingga 3.000 Ha akhirnya, diyakini akan mendorong kemajuan pertanian dan
produksi sawit Sumut dari sektor CPO dan nasional di masa depan.
“Saat ini produksi hilir CPO Indonesia masih sebesar 21 juta ton per tahun. Sampai 2020 nanti, kita yakin meningkat hingga 40,25 juta ton. Peningkatan produksi
itu karena hadirnya kluster industri CPO seperti di Sei Mangke ini, sehingga kehadirannya bisa mendorong kemajuan pertanian daerah setempat,” ucap Bayu.
Dirincikannya, dari 40,24 juta ton produksi hilir CPO itu, sekitar 40 persen (16-17 juta ton) akan dijadikan biofuel, 20 persen untuk minyak makan, 30 persen di jual dalam bentuk CPO, dan sekitar 5-6 juta ton lagi diolah menjadi turunan (oleochemical) seperti sabun mandi, parpum, mentega, minyak makan dan lainnya.
“Hadirnya kluster industri hilir CPO di Sei Mangke ini, kita yakini akan menghasilkan 150 produk turunan. Dan bila itu terjadi, maka Sei Mangke sudah menjadi super
market Indonesia bahkan dunia untuk produk turunan CPO. Karena apa saja yang terkait dengan CPO, daerah ini bisa menyediakannya,” ucap Bayu optimistis.
Soal kekhawatiran serbuan produk Cina ke Sumut kerena diberlakukannya Asean Cina Free Trade Agreement (ACFTA), Bayu malah berfikir sebaliknya. Menurut dia,
dengan ACFTA itu, maka produk unggulan Sumut seperti CPO bisa membanjiri Cina. Karena produk tersebut selama ini belum masuk ke Cina.
“Dengan ACFTA ini, maka CPO Sumut bisa 300 persen lonjakannya masuk ke Cina. Karena dengan kluster industri ini, apa saja yang mereka (Cina) minta, kita bisa
menyediakannya,” tukas Bayu seraya menambahkan dipilihnya Sei Mangke sebagai pilot projek kluster industri berbasis pertanian di Sumut karena pengembangan
wilayahnya sangat dekat dengan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara yang berjarak sekitar 40 kilometer, termasuk sebagai salah satu wilayah koridor
pengembangan ekonomi di kawasan Barat Indonesia mulai Aceh hingga Lampung.
Menteri Perindustrian MS Hidayat juga menekankan hal serupa. Menurutnya, Sumut di masa depan tidak hanya menjadi pusat industri hilir CPO di Indonesia, tetapi juga
internasional. Karena perubahan itu, Hidayat berharap dilakukannya reformasi perubahan dari kawasan eksportir bahan mentah, menjadi kawasan eksportir bahan jadi.
Hidayat juga menjelaskan, dipilihnya Sumut sebagai pilot projek kluster industri hilir CPO karena kepercayaan yang tinggi dari pemerintah bahwa daerah ini mampu menjawab tantangan yang diberikan. “Sumut memang luar biasa karena resources (sumber daya alam) yang cukup banyak tersedia, sehingga menjadikannya lebih unggul dari provinsi lain. Dan karenanya, saya harapkan seluruh pemangku kepentingan di daerah ini satu bahasa
untuk merealisasikan apa yang sudah dicanangkan,” tegas Ketua Kadin Indonesia ini seraya memastikan bahwa prospek produksi 40 juta ton CPO pada 2020
mendatang tidak akan diperoleh dengan membuka lahan baru, tetapi dengan replanting perkebunan sawit yang habis masa produktivitasnya.
Pada 2008, lahan perkebunan sawit Indonesia mencapai 6,6 juta Ha dengan produksi 21,8 juta ton CPO dan menyumbang 50,8 persen dari total produksi dunia sebesar 42,90 juta ton CPO. Pada 2009, produksi CPO diperkirakan mencapai 23 juta ton, meningkat jadi 32,2 juta ton pada 2015, dan menjadi 40,25 juta ton pada 2020.
Dari jumlah produksi tahun 2008 itu, sekitar 15,6 juta ton masuk sebagai devisa negara dengan nilai 13,79 miliar US dolar. “Nilai ini merupakan penerimaan ekspor terbesar Indonesia. Dan pada 2020 nanti, saya yakin nilainya jauh lebih besar lagi, terutama Sumut yang memiliki lahan 907,7 ribu Ha dengan produksi 3,52 juta ton tentu akan mendapat keuntungan berlipat ganda,” katanya.
Sementara itu, Gubsu Syamsul Arifin berharap dengan akan dibangunnya kluster industri hilir CPO di Sei Mangke itu, maka produktivitas menghasilkan produk turunan CPO
dari 30 jenis saat ini bisa lebih meningkat minimal 60 jenis. Dengan demikian, harapan bagi Sumut bisa lebih meningkatkan perekonomiannya dari sektor pertanian yang 60 persen wilayahnya berada di sektor ini, bisa segera dicapai,” kata Gubsu.
www.sumutprov.go.id