Sosok

Ratu Opera Batak dari Tiga Dolok boru batak Zulkaidah br Harahap

2010-03-09

Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an. Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit. Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Laporan Khusus

Musibah Gempa Bumi yang Sering Melanda Bangsa Ini

2009-10-11

Belum pupus dalam ingatan kita, peristiwa bencana tsunami dan gempa bumi yang acap kali terjadi di negeri ini, memang secara geografis, Indonesia adalah negara yang rawan gempa. Guru mengaji sering menyebut bahwa gempa bumi adalah salah satu kiamat kecil dan bagi orang- orang yang langsung mengalaminya, bencana gempa dan tsunami memang sudah seperti hari kiamat.

Gempa dan tsunami banyak menelan korban jiwa dan harta dan celakannya gempa adalah salah satu bencana yang sangat sulit diperkirakan kapan akan terjadi dan besarannya pun sulit diperkirakan. Ada yang perlu kita lakukan dalm menghadapi gempa dan tsunami. sederhana saja atau bahkan malah sepele. Tapi jangan pernah menyepelekan sebelu dan sesudah kejadian.

Gempa bumi yang belum lama ini terjadi, seperti gempa bumi di Padang, banyak sekali menelan korban jiwa, dengan begitu dahsyatnya gempa tersebut memporak porandakan bangunan dan jalan yangada di seantero Sumaterab Barat. Tidak terkecuali gempa juga terasa di Sumatera Utara dan sekitarnya, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura.

Gempa merupakan fenomena dan gejala alam yang memang pasti akan terjadi karena itulah siklus alam, dan kita tidak dapat menghindar dari bencana tersebut. Allah selalu menegur siapa saja yang Dia kehendaki. Teguran itu adalah merupakan perwujudan kasih sayang Allah kepada mahluknya, namun terkadang hamba Allah ini tidak memperhatikan teguran dan bahkan melupakan teguran tersebut. Belum lepas dari ingatan kita bagaimana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh, yan banyak menelan korban jiwa, begitu pula gempa yan terjadi di Nias, Jawa Barat dan bahkan sampai terasa di Jakarta. Manusia sebagai maluk yang lemah, sudah sepatutnya untukberintrospeksi dan mengoreksi diri, apakah dalam menghadapi hidup ini sudah dalam kaidah dan norma yang tepat atau bahkan malah sebaliknya, mari kita kembali merujuk Al- Quran dan Sunnah Rasulullah sebagai cerminan hidup untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat kelak.