Sosok

Ratu Opera Batak dari Tiga Dolok boru batak Zulkaidah br Harahap

2010-03-09

Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an. Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit. Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Editorial

Nauli Basa

2008-12-30

Alhamdulillah walau martugarang (merangkak) majalah kita tercinta ini masih bisa menemui pembaca budiman. Sebagaimana sering dikemukakan sejak awal majalah kita ini berniat untuk mengangkatjati diri bangsa melalui jati diri adat dan istiadat kita yang ada di daerah Tapanuli bahagian selatan.

Sudah pasti untuk mengangkat jati diri dan adat istiadat kita ini tidak akan dilakukan oleh orang lain, karena mereka sendiri sibuk mengangkat jati diri dan adat istiadat mereka. Jati diri dan adat istiadat ini tidak bisa lepas dari kita sebagai bangsalsuku bangsa. Kehilangan adat dan jati diri itu sama dengan kehilangan kita sebagai suku dan kehilangan mozaik kekayaan adat bangsa yang akan menjadi bernilai komersil dimasa yang akan datang. Oleh karena itu memelihara kekayaan budaya ini sebenarnya merupakan tanggungjawab negara dan bangsa khususnya.

Oleh karenanya tidak heran jika ada Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Rl dan Dinas dinas di pemerintahan daerah. Salah satu artifak yang dapat kita tinggalkan adalah budaya tulis atau literatur misalnya buku buku atau majalah ini. Dengan keberadaan ini maka dapat diharapkan adanya proses pewarisan nilai nilai dan budaya kita ke generasi lain dan pihak lainnya yang berminat. Tanpa artifak ini maka adat istiadat dan budaya kita akan menjadi seperti dinosaurus hanya tinggal kenangan.

(Sofyan Syafri Harahap)