Sosok

Amir Hamzah, Tengku (1911-1946)

2010-07-06


Sastrawan Pujangga Baru

Tokoh Indonesia 28/02/2009: Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Editorial

Kenapa Ia Harus Terlahir?

2008-12-29

Perkembangan masyarakat dunia ternyata sangat cepat, apalagi di pusat pusaran perubahan itu, seperti di kota-kota besar di negara-negara maju. Bahkan di level nasional kecepatan pusaran itu berbeda antara satu tempat dengan tempat lain. Perubahan di Jakarta jauh lebih cepat dibandingkan dengan di Medan, apalagi di Padangsidimpuan. Perubahan yang cepat ini dipicu oleh kemajuan ilmu dan teknologi, baik teknologi komunikasi maupun komputer. Semakin maju penguasaan teknologi komunikasi dan komputer, semakin cepat pula perubahan itu terjadi.

Sebagai insan yang berdomisili di Jakarta, merasakan bahwa di daerah kita nan jauh disana -Tapanuli Selatan- perubahan itu hampir dikatakan tidak ada, bahkan justru sebaliknya, kemunduran disana sini yang terjadi baik dari aspek perkembangan material maupun perkembangan aspek moral, akhlak, pendidikan dan ketaqwaan. Bahkan jika kita bandingkan dengan era beberapa dekade dari awal kemerdekaan, yang mana dapat dikatakan banyak tokoh-tokoh Tapanuli bagian Selatan (Tapsel dan Madina) bisa menempati posisi sentral di pemerintahan pusat, bahkan ada yang menjadi Perdana Menteri (Burhanuddin Harahap), Wakil Presiden (H. Adam malik), Menko Pertahanan dan Keamanan (Jenderal Besar A. H. Nasution) dan berbagai posisi Menteri dan pejabat Tinggi lainnya. Situasi ini tentu sangat menyedihkan. Untuk itu kita sangat prihatin dan kita harus melakukan hal-hal yang bisa dan efektif untuk mengatasinya dengan cara apa yang bisa dan dapat kita lakukan.

Tentu semua ini bukan kesalahan kita. Keadaan tersebut bisa terjadi karena disebabkan berbagai faktor, misalnya kesalahan strategi pembangunan dan sistem ekonomi dan politik yang dibangun, yang semuanya diluar wewenang kita. Kita juga tidak akan bisa membangun teknologi komunikasi atau menyiapkan perangkat komputer di daerah kita sehingga kita bisa menembus akses ke New York Stock Exchange atau ke Situs Harvard University misalnya. Apa yang bisa kami lakukan hanyalah menyampaikan berbagai informasi yang terjadi diluar daerah kita yang insya Allah akan dapat memicu perkembangan masyarakat di daerah melalui media massa seperti penerbitan majalah periodik ini.

Media majalah ini kami namai NauliBasa yang memiliki arti yang sangat dalam, bahkan merupakan sebahagian nama dari nama-nama indah asmaul husna. Ini mengandung harapan agar masyarakat Tapanuli bagian selatan nanti bisa menjadi orang-orang atau masyarakat yang “na uli” dan “na basa” sehingga kualitas masyarakat kita bisa kembali seperti semula. Inilah visi dan misi NauliBasa yang kami harapakan bisa diwujudkan seberapapun kadar tercapainya.